Jumat, 05 Oktober 2007

The Beautiful Life Come to Your Soul

Allah always give me beautiful life. I never realize it. How I have to say thanks to Allah. Allah always give me miracle in every moment. I was born in nice family. I have Islam and I want to be a Moslem's. It's too hard and going harder. Sometimes, I feel it's too hard to going on but.....I always remember to fight back.
I am totally 100% ordinary man. I often make a mistake and doing some stupid things. I never stop to ask and pray to my lovely GOd (Allah). I always come when I am sad. Allah never sleep and busy. I believe in Allah. The miracle always come, the flash light come to my soul to make me warm and comfort. I never imagine how my life without Allah.
I want to build self- esteem as moslem in every moment. Allah help me to appear it. The crazy environment with full of smog, I always try to stand on my feed and keep my aqidah. How hard it's I wont to stop.
SubhanAllah, I can breath and life in happiness. As a woman, I can caught higher education and get prestige from my environment. In deep of thinking at night of ramadhan, I knew how lucky I am. In my residence, there are entire girls. Most of them have a good education and get prestige. The other side, they are don't have opportunity to get higher education and prestige.
I learn from my friend. Actually she is a girl who stand next to me at the mosque. She is not educated woman but she is so polite. Do U know who is she? she is a servant at one of my neighbor. She has strong self-esteem. She always wearing veil to cover her bodies. She always respect the older and love the younger. I am so jealous. In the deep of thinking, I ask to Allah to give me self-esteem as moslem.
I am not perfect woman. I am not really tall and almost short but it's normal bodies. I have complete of fifth sense. Most of person whom I met, they said that I am smart girl. Sometimes, I am not confident with my bodies but I just put away far from my mind. Allah give me perfect shape of man.
The other man, mbak Lis. She is servant too. She has small bodies but normal. Her face is not really beautiful. She always kinds to anybody. She always go to the mosque to salat tarawaih every night at ramadhan. She really love kids. But the bad experience come, one of my neighbor kid, Lala, she is about three, she so affraid and cry when mbak lis close to her. I knew that her mother cover it. Her mother wont hurt mbak lis heart's. It happened in front of me. I cannot imagine how mbak lis feel's. In the deep of my heart, I am sad and with full of my heart thanks to Allah. I cannot imagine if I do not have higher education and prestige. I cannot imagine if Allah didn't give me beautiful face and smart mind. Alhamdulillah wa syukurillah. Thanks Allah you give me beautiful life. You give me Islam and made me be a moslem. LailahailaAllah.

My Candle Light

You're my candle light
It's gonna dark
The lamp is going to turning on
Upss....
The electricity is not enough
I am so confused
I am older than five
but.....
I am so scare
It's gonna dark
suddenly, the flash light come
It's so beautiful
My heart gonna warm and comfort
My candle light
The candle light burn my spirit
it built motivation
You gave me new power
keep fight....! Keep fight....!
You are my candle light
You burn your bodies
make me warm and comfort

My Precious Thing

It's too strange.
It's total mystery
Allah give me beautiful life
and....
The day come....
I hope it is not late but...
I made a mistake
How I wonder it was
you're too precious
I lost you in few second
I did it
I was losing you
I never realize it
You R my precious thing
Even though you are not thing
I knew how precious you are
when you was gone
you took a part of my heart
I never realize it before
how precious you are
I really missing you

Selasa, 04 September 2007

Windyku sama seperti yang lain

Setiap anak mempunyai kemampuan sama namun potensi berbeda.Kemampuan seseorang selama ini diukur dengan Intelegensia (populernya IQ).Kemudian, bagaimana dengan potensi?. Lingkungan masyarakat cenderung mengkotak-kotakkkan kemampuan seseorang, misalnya, nilai matematika Alif selalu 9 (anak demikian dikategorikan pintar); lainhalnya dengan Adiz, nilai raportnya standar-satndar saja tetapi berbakat melukis. Penilaian yang demikian tentu tidak obyektive.
Windy, anak kelas 5 SD berumur sekitar 10 tahun. Dalam kategori aktif dan pasif, dia termasuk anak pasif. Windy, saya membantunya mengenal bahasa Inggris. Orang tuanya mengirimnya kepada saya untuk mempelajari mata pelajran yang tidak wajib itu. Berdasrkan penglaman dan jam terbang yang masih sangat amat kurang, saya menerimanya.
Selama ini, saya selalu membantu anak-anak yang dikategorikan berotak encer dan cenderung hiperactive. Anak-anak yang selama ini saya ampu selalu memulai diskusi kecil sebelum kegiatan belajar dimulai. Terkadang diskusi kecil itu sampai 30 menit lamanya. Meskipun kelihatannya sepele', diskusi awal itu cukup menghibur bahkan memunculkan motivasi untuk belajar. Saya bisa mnciptakan joke-joke kecil dan timbal balik kulakan (membeli sesuatu untuk dijual - bahas jawa) joke dari mereka. Misalnya, Kucing berkaki empat bahsa inggrisnya apa? jawabannya catbien (dari dulu - bahasa jawa), menayakan bahsa Inggrisnya " kacian deh lu " (bahasa gaul Indonesia yang sedang populer), menayakan bahasa Ingrisnya "sungguh terlalu" (ungkapan dalam sinetron sientong) dan sejenisnya. Saya tidak hanya kulakan dalam diskusi saja melainkan perdebatan dalam menjawab soal juga. Misalnya, "Tanti eats bakso" dengan pertanyaan kenapa verb nya memakai s dan jawabannya sudah takdirnya; Kenapa mesti pake' good evening koq nggak good night khan sama-sama artinya malam?; kemudian koq cupboard artinya lemari, cup khan gelas trus board khan papan, seharusnya khan papan gelas; dan sejenisnya.
Kejadian-kejadian lucu diatas tidak saya temukan pada diri windy. Anak ini cenderung pasif dan mempunyai psikomotorik yang lemah. Pertemuan pertama, windy sama sekali tidak bisa greeting sederhana dan memulai mengerjakan sesuatu seperti robot tanpa ekspresi dan sepatah kata pun keluar dari inisitifnya sendiri. Saya tidak patah arang, saya memakai cara drill vocabulary, dia tidak mampu menghafal 10 buah tapi hanya mampu lima itupun sering kurang tepat. Pada pertemuan berikutnya, saya mengajak dia bermain-main dengan apidol dan kertas asturo. pertemuan kedua ini, saya menemukan dia kurang bisa berinisiatif dan kurang kreatif. Windy, menuliskan hari dari monday sampai saturday sama persis daria wal sampai akhir meskipun saya sudah merangsangnya dengan aneka jenis dan warna. Kegiatan belajar itu menjadikan saya lumayan stress sampai pertemuan ke 5.
Alhamdulillah, hasil diskusi dengan kakak dan temen-temen di kampus saya menemukan solusinya. Saya ubah paradigma dalam fikiran, windy sama seperti yang lain. Dengan modal eksperimen dan nekat saya mulai belajar dengan windy. Pertama, saya tidak akan menganggap dia bodoh cuma dia kurang dibandingkan dengan yang lain. Kedua, saya tidak akan memaksakan menyelesaikan materi untuk dia, windy cukup faham saja meskipun sedikit. ketiga, windy tidak boleh dikasihani, dia butuh perhatian lebih. Keempat, menyentuh hatinya dengan kasih sayang dan reward berupa pujian. Terakhir meskipun bukan yang terakhir, Saya menganggap belajar dengan windy bukan untuk mencari materi tapi belajar layaknya dengan adik saya sendiri.
Apa kebanggaan seorang guru? Ketika seorang muridnya yang kurang bisa menjadi murid yang biasa-biasa saja, murid yang biasa-biasa saja menjadi luar biasa. Tetapi guru itu tidak istimewa, murid yang inputnya bagus outputnya tetap bagus. Demikian juga dengan windy, hasil kerja keras saya tercapai. Akhirnya ujian semesteran tiba, nilai rapor windy tidak berubah tetap 75. Namun, terbesit kebanggan dalam diri saya, windy mengerjakan soal tidak seperti robot melaikan dengan pemahaman penuh. Kata hati saya berkata "Kelinci eksperimenku berhasil juga." Amazing, orang tuanya merasa sangat puas dengan perubahan windy yang mengarah lebih baik. Memang, windy sama seperti yang lainnya, dia mampu dan bisa menguasai pelajaran dengan baik.

Ayahku Seorang Pendongeng

Masih teringat jelas dalam memoriku sewaktu kecil beranjak tidur, ayah mendongengkanku cerita mulai dari Kancil Nyolong Timun sampai Kisah Nabi Muhammad. Sudah 16 tahun yang lalu namun ceritanya masih terngiang sampai sekarang. Seakan bernostalgia dengan dongeng tersebut menjadikannya bahan pengajaran reading dan menjadikannya final project untuk lulus sarjana.
Dalam buku terbitan Kompas "sekolah alternatif untuk anak", ada beberapa artikel mengenai dongeng. Artikel-artikel tersebut mengulik manfaat dongeng. Allahuakbar, artikel itu menunjukkan bahwa dongeng merangsang otak anak untuk berkembang dan mengisi kekosongan batiniah; Sehingga, membuat anak yang masa kecilnya didongeni menjadi kuat menghadapi masa sulit di masa mendatang. Ini dikarenakan si anak telah belajar menghadapi konflik dan persaingan disertai penyelesaiannya melalui media dongeng.
Ayah adalah seorang pendongeng pengantar tidur untukku. Kalau bukan karena dia, aku tidak akan belajar bagaimana mendapat ide dan mengembangkannya dengan memainkan imajinasi menjadi sebuah pembelajaran hidup. Tak disangka-sangka, setelah perenungan dongeng masa kecil mengantarkanku menjadi orang yang tidak menyerah pada permasalahan dengan menyelesaikan masalah secara instan.
Figur ayah memang sudah fitrahnya diagungkan, demikian juga diriku. Ayah adalah seorang pendidik di sekolah tetapi dirumah, beliau seorang pembimbing dan sahabat bagi ank-anaknya. Tidak heran ayah pandai mendongeng karena beliau lulusan SGA (Sekolah Guru Atas), sekolah untuk guru SD. Tetapi, ayah bukan guru SD melainkan SMP karena melanjutkan sekolah lagi sampai lulus menjadi sarjana muda sejarah. Beliau bisa menjadikan posisinya sebagai ayah dan ibu (meskipun peran ibu juga sangat berperan dalam hidup seorang anak). Tidak dipungkiri, aku lebih dekat dengan ayah daripada ibu. Setalah ayah meninggal, rasa kehilangan itu membawaku pada memori dongeng masa kecilku. Sekarang, masa-masa itu kutransferkan pada anak didikku. Aku berharap, dongeng itu bisa menjadikan keakraban dan pemenuhan kehausan berimajinasi anak didikku

Senin, 03 September 2007

Potret Pendidikan di Indonesia

Pendidikan merupakan tolak ukur kemapanan seseorang. Selama ini pendidikan sistem konvensional merupakan pendidikan pilihan yang laris manis bagaikan pisang goreng. Mulai dari buruh pabrik sampai pejabat di negeri ini mengirimkan anak mereka kesekolah dengan dalih meraih masa depan. Namun, pertentangan pemberlakuan sistem pendidikan yang berubah-ubah menyeret pertentangan hebat dikalangan masyarakat. Mulai dari kurikulum yang berubah setiap 4 tahun sekali sampai pro-kontra UAN (Ujian Akhir Nasional). Pertentangan tersebut memunculkan fenomena pemilihan pendidikan alternatif.
Masyarakat menanggapi carut marutnya pendidikan dengan berbagai macam cara. Munculnya sekolah unggulan berbasis kebebasan berfikir sampai homeschooling. Kita disibukkan berita di media massa dengan berita mengenai profil sekolah alternatif unggulan seperti, SMA Muthohari Bandung, Sekolah Qoryah Thoyyibah, Sekolah Alam, Akselerasi, sampai SBI (Sekolah Berstandar Internasional). Tak kalah hebohnya para Psikolog dan praktisi pendidikan sampai kalangan selebritis mempromosikan homeschooling. Fenomena homeschooling melirik banyak orang untuk mengenalnya bahkan mengujicoba program tersebut.
Homeschooling yang berkembang di Indonesia sekarang hampir mengarah marketisasi pendidikan. Bayangkan saja Homeschooling setingkat Sekolah Menengah Atas hampir menelan biaya 10-20 juta perbulannya. Kemerdekaan berfikir akankah dibayar mahal semahal itu.